Monday, April 24, 2017

keterbatasan pendidikan, keluarga dan lingkungan bukan alasan buat berhenti dari mimpi pribadimu.

Seperti yg pernah saya janjikan akan menulis perjalana terjal menuju Tokyo, perlu di ketahui ini hanya bertujuan untuk berbagi dan syukur-syukur bisa memotifasi seseorang, dgn menulis latar belakang saya, itu sebuah bukti yg saya coba tunjukkan, bahwa alasan kemiskinan, tinggal di dusun, tidak ada beking dan segala keterbatasan janganlah di jadikan alasan untuk tidak menjadi dirimu dgn segala yang kita impikan.
Beberapa survey di negara maju membuktikan, disaat masa-masa tua seseorang, hal yg sering mereka sesali dan mengusik diri adalah, sesuatu yg mereka impikan atau inginkan dalam hidup mereka yg tak sepenuhnya di perjuangkan. Menua dengan impian yg tak tergapai, adalah kesalahan fatal yg dilakukan manusia, padahal Allah menciptakan merka sesuai pungsi masing-masing untuk mengisi kepingan puzzle kehidupan ini.
Backgraound saya dari keluarga sederhana, semua terlihat baik dan lancar sampai usia 13thn, lahir sebagai anak pertama dari 5 bersaudara, tiga laki-laki dan dua perempuan, anak pertama sampai ketiga semuanya laki-laki. Beda usia kami hanya setahun, ibu saya menikah sangat muda. Usia 16 thn, Tak terbayang di usia 19 thn dia memiliki tiga anak laki yg hampir sama besar, ketangguhan sosok wanita dusun yg terbentuk alami, sabar, nrimo dan mencoba jadi yg terbaik buat anak-anak dan suami. ketangguhan seorang ibu dgn segala keterbatasannya.
Beberapa tahun kemudian lahirlah dua adik perempuan saya, lengkap sudah keluarga ini dgn keberadaan anak laki2 dan perempuan yg berjumlah 5 orang, dan tentusaja ujian orang tua saya kian berat dan bertambah, terutama dalam hal nafkah dan pendidikan.
Sampai usia saya memasuki remaja sekitar 16 thn, ekonomi keluarga semakin terpuruk, apalagi ayah saya memang sudah sakit-sakitan sedari muda. Takbanyak yg bisa diperbuat ibu saya yg hanya sekolah sampai kelas 5 SD, jadi statusnya sekolah dasar pun tidak selesai, justru ini jadi nilai tambah khusus buat ibu, meski tidak tamat SD, beliau sangat rajin membaca, termasuk membaca koran bekas bungkus cabe atau bawang yg di beli beliau waktu kepasar,  pasar di dusun kami hanya satu kali seminggu, yaitu hari kamis. Saya akan bangun pagi2. Buat kepasar
Hanya sekadar cuci mata atau beli bakso, moment yg saya sangat tunggu setiap minggunya hahaha.
Disaat usia SMA , ekonomi keluarga sudah sampai titik terendah, usia yg hanya beda setahun, membuat tiga dari kami memasuki jenjang sekolah menengah hampir bersamaan, akibatnya saya harus berhenti sekolah disusul dua adik laki- laki saya kemudiannya.
Jelas satu point disini terlihat, saya tidak punya dasar pendidikan yg tinggi, yg selalu di jadikan alasan atau pembenaran banyak orang untuk mengalah dan mengubur mimpi- mimpinya. Yg justru akan menjadi mimpi buruk dan menghantui sepanjang kehidupan yg akan di jalani.
Satu hal penting yg membuat saya beruntung, ayah saya sarjana tahun 70 an, karna keterbatasan fisik dan prinsip serta idealisme beliau, dia hanya jadi sosok biasa, yg semestinya pada saat itu bisa membuat beliau jadi pejabat minimal di daerah dgn mudahnya, hal yg selalu ibu saya ungkit dan sesali, dan saya tau pasti, pendidikannya tsb justru jadi bumerang dlm kehidupannya, menyakiti batinnya, tentu juga harga dirinya, butuh waktu yg sangat lama saya bisa benar-benar mengerti beliau, saya hanya mengingat sisi baik dan kuat nya beliau dalam membentuk karakter saya, tak membiarkan pikiran negarive tentang kelemahan beliau merusak rasa hormat saya, toh pada ahirnya, kasih sayang dan rasa hormat dalam keluarga melebihi segalanya, melebihi harta dgn segala kesuksesan hidup ku.
( mata saya sedikit sembab waktu mengingat dan menulis tentang beliau .)
Kelebihan beliau terletak dari cara menyikapi kehidupan yg beliau pilih,beliau mengajar kan nilai-nilai moral yg sangat tinggi dan baik,  memberi nafkah halal meski harus berjualan telur ayam kampung yg saya tau persis sangat menyakiti harga dirinya, bagi beliau nafkah itu akan menentukan karakter anak-anaknya di masa depan, dan itu terbukti, meski sekolah pas-pasan, beberapa diantara kami sukses dlm bidang masing2. 2 adik perempuan saya alhamdulillah sarjana. Satu pegawai negri tanpa harus menyogok , tentu juga ada yg masih berjuang,
Sampai disini dua pesan moral yg bisa kita dapat, dan menjadi patokan hidup saya:
1. IQ kadang bisa tidak berarti apa2 kalo tidak di barengi I can, lebih tajam lagi, IQ bisa kalah oleh I Can, banyak bukti orang yg pintar disekolah dlm kehidupan nyata hanya biasa-biasa saja. Sementara murid yg tidak menonjol, malah sukses dlm karirnya, intinya, takberpendidikan tinggipun, bukan alasan buat berhenti mengejar mimpi kita,
2. Nafkah halal, itu sangat penting dalam membesar kan anak-anak kita, itu akan menjadi darah dan daging juga membentuk moral dan karakter seseorang, berilah reski halal keluargamu, insyaallah Allah mempermudah jalan masa depannya.

Sampai disini dulu topik cerita saya kali ini, oh ya sahabat pembaca sekalian, saya lagi menulis buku, yg insyaallah taun ini bisa diselesaikan, mohon doa nya, smoga lancar dan di mudah kan. Karna buku perdana, disana saya akan tulis lebih detil dan dlm lagi, proses panjang perjalanan sehingga sampai di Tokyo saat ini, yg terpenting di cerita dan buku tsb, adalah nilai perjuangan yg kitaharapkan bisa membuka fikiran terutama orang2 yg masih mengejar atau baru akan menggapai impiannya. Wassalam. To be continue ( bersambung)
Tokyo April 25 .2017

Sunday, April 23, 2017

Temukan takdirmu

Judul tulisan kali ini adalah menemukan Takdir Kita
Kita semua tahu bahwa setiap org punya bakat dan hobi yg sekaligus mereupakan kelebihan setiap individu.
Dunia ini panggung sandiwara, kita punya peran masing-masing yg harus kita tempati dan isi untuk ambil bagian dlm proses kesempurnaan kehidupan.
Untuk menemukan Path and Core value alias hasrat dn keinginan yg betul datang dari diri kita,kadang butuh waktu lama dan proses yg panjang, sangat beruntung sekali kalau kita menemukannya sedini mungkin,
Saya sendiri butuh sampai umur 25 thn baru berani mengikuti hasrat dan bakat saya meski dgn rasa ragu dan ketakutan, memberanikan diri dan tekat yg kuat itulah yg menjadi kekuatan dlm proses perjalanan panjang perjuangan demi  my Path and core value diri saya sendiri yg telah lama terpendam dan wajib saya perjuangkan,
Sekarang saya berdiri gagah di tengah pelatih renang dari berbagai negara dgn latar belakang luar biasa, mereka lahir di keluarga mapan dan dari negeri modern seperti USA . Eropa dan Jepang.
Belajar renang dari usia dini dgn pelatih dan fasilitas Internasional, menghabiskan waktu kanak-kanak dan remaja mereka di lingkungan club  swiming yg sudah pasti harus mengikuti kompetisi tingkat international, malah ada yg berkompetisi di ivent sekelas olimpiade.
Bekerja di swimming club yg diisi orang-orang kaya dan terkenal di tokyo beserta exspat kelas kakap dari manca negara, kami di gaji sangat baik, malah saya termasuk yg bergaji Tinggi melebihi beberapa pelatih asli jepang dan bule yg dtg dar background jauh di atas saya, ya kita-kira perbedaannya seperti langit dan bumi lah hahaha
Hanya dua atau tiga orang yg bergaji 50 jt kalo dirupiahkan, gaji tersebut udah jauh di atas upah rata-rata atau UMR Kota Tokyo yg berkisar 23 jt per bulan.
Dengan gaji dan fasilitas kehidupan yg baik tersebut, mungkin tidak mengejutkan buat atli renang olimpiade yg menghabiskan waktu puluhan tahun berlatih dan takterkira biaya yg telah di keluarkan disamping dedikasi yg tinggi dan pasti didukung penuh orang tua mereka, setelah selesai berkompetisi dan mendapatkan mendali olimpiade, saya dan banyak orang akan menerima dan maklum kalu sang atlit ahirnya bekerja di swimming club sebagai pelatih dan menerima gaji 50 jt perbulan , tanpa harus memikul tanggung jawab dan resiko sebesar seorang pilot yg bergaji sama di beberapa maskapai penerbangan.
Gaji 50 jt dan fasilitas bagus itu akan menjadi luar biasa kalo di dapat oleh seorang anak yg justru lahir di sebuah kampung yg jauh dari kemajuan kehidupan moderen seperti di negara maju.
Lahir di tengah keluarga yg sangat sederhana, besar dengan lampu togok ( lampu tradisional bersumbu kain dan bahan bakarnya minyak tanah) sekolah kadang nyeker ( tanpa alas kaki) dan belajar renang dengan nyemplung ke sungai sendiri , yg pada ahirnya menjadi karir yg menghasilkan uang dalam kehidupannya.
Air sungai yg kadang butek alias warna coklat di musim hujan dengan arus yang sangat deras, telah memakan banyak nyawa penduduk yg hidup sepanjang tepian sungai tsb. ini lah kolam renang alami yg menempa saya hingga mampu ngapung dan bergerak di atas air sungai yg ber arus deras, yah hanya berenang untuk survival aja, asal gerak dan tendang, yg penting tidak tenggelam, sangat berbeda dgn murid-murid renang saya di Tokyo ini.
Usia bayi 6 bln mereka udah masuk kursus renang dgn pelatih dan metode yg modern dan canggih.
Tidak heran di usia 5 thn anak-anak tersebut sudah mampu berenang dgn durasi yg lama dgn jarak sampai 2,5 km non stop, memiliki stamina juga teknik stroke yg sempurna, yap berenang yg sesungguh nya, free, back , breast and fly stroke, bukan seperti renang saya waktu kecil di kampung di sungai batang hari hahaha,
Justru inilah yg sangat penting, hidup di Tokyo, gaji 50 jt perbulan dan Istri orang jepang asli, itu hanya hasil dari perjuangan panjang dan do'a yg di kabulkan Allah, bukan bermaksud menyombongkan diri, jadi nilai penting dari cerita ini  justru proses pencapaian tersebut, ini point yg tak ternilai yg saya rasa wajib saya ceritakan dan berbagi, dengan harapan bermanfaat dan bisa memotifasi orang lain dalam mencari dan menjadi yg seperti diinginkan,
Dalam proses perjalanan panjang menuju Tokyo megapolitan ini, tentu banyak yg bertanya dan ingin tau ceritanya, cerita itu akan saya bagi dgn jelas, ini cerita nyata dan bukan kata- kata indah sang motivator yg kadang dia sendiri takpernah mengalaminya.
Saya katagorikan sebagai berikut.
1.asal usul atau latar belakang saya.
2. Kisah pendidikan atau sekolah yg hancur lebur hahaha
3. Masa transisi dan kerja di kampung.
4, menemukan Path dan core values diri sendiri ,
5.Action alias merantau tuk menggapai cita-cita
6.susah senang di rantau mencakup
   A. Pulau Bintan
   B. Pulau Bali
7, petualangan di beberapa negara

8, Go to Japan sampai saat ini
Ini bocoran buku yg lagi saya tulis, daokan cepat selesai, dan sukses juga berguna untuk semua.


Itulah cerita yg justru menjadi nilai penting untuk saya bagikan, dan insyaallah bermanfaat buat diri kita masing-masing beserta anak- anak muda yg menurut saya butuh motivasi dan role model yg nyata dalam menemukan jati diri mereka.
Stay up to date dgn blog ini, smoga saya mood dan punya waktu menulis untuk berbagi, wassalam n to be continue hahaha.