Wednesday, May 17, 2017

Budak Dusun di Tokyo: Terjal jalan ke negeri sakura

Budak Dusun di Tokyo: Terjal jalan ke negeri sakura: Catatan ultah tahun ini, mumpung lagi day off, punya banyak waktu untuk curhat, yah terkadang dalam hidup tak ada salahnya sesekali menoleh...

Saturday, May 13, 2017

Fear is the biggest dream stealer

Fear the biggest dream stealer ( ketakutan adalah pencuri impian terbesar kita).

Semua orang pernah dan wajar merasa takut, termasuk diri saya sendiri, tinggal kita harus tau cara mengelola rasa takut tersebut.
Disinilah letak perbedaan antara pemenang dan pecundang, cara menghadapi rasa takut yg sama yg tentu saja sangat manusiawi,apalagi di saat dihadapkan dengan pilihan sulit, keluar dari comfort zone, atau memutuskan mengikuti keinginan hati sesuai passion dan core value diri kita masing-masing yg Allah bekali dengan bakat dan kemampuan tersendiri dan berbeda-beda.

Sebelum saya sampai menetap di Tokyo, takterhitung rasa takut itu mendera dalam perjalanan panjang dan berliku tersebut, saking sering nya, sehingga saya tau cara untuk menghadapinya,saya hanya tamatan MAN yg selesai dengan susah payah, jadi selebihnya hidup saya di jalanan nasib, disekolah kehidupan nyata, yg membiarkan saya berbuat salah, jatuh dan terluka, taka ada guru atau teman yg melihat kesalahan yg saya perbuat, tak ada aturan yg menyatakan salah dan gagal itu tidak baik dan di cap bodoh atau tidak berbakat.saya justru belajar dari kesalahan-kesalahan dan rasa kecewa dan takut yg saya alami, itulah guru saya, yg memaksa saya menghadapi rasa takut, keragu-raguan, dengan satu kata, just do it, yup, lakukan saja, kalo saya gagal, belajarlah dari kegagalan itu, and do it again, again and again , eventually I got what I want, yup kegigihan dan determinasi akan slalu membuahkan hasil.

Semua impian individu, dalam menggapainya itu ibarat naik sepeda, pada awalnya kita akan sering terjatuh dan tersungkur, bahkan luka-luka, namun pada ahirnya kita akan mempunyai kemampuan untuk mengendalikan sepeda dan menikmati mengendarainya.
Bekas-bekas luka saat proses pembelajaran itu, akan terlihat indah dan manis untuk di kenang, setelah kita bisa mengendarai sepeda, tentu akan lebih mudah untuk mengendarai kendaraan bermotor ,bisa saja mobil.begitulah hidup, di saat kita mampu mengatasi rasa takut, mndapatkan target pertama kita, rasa keteguhan dan kekuatan jiwa akan terbangun, tak satupun lagi yg bisa menahan mu untuk menggapai mimpi, kecualli sang penguasa jagat berkata lain, dan ingat, sang pencipta menjadikan kita sebagai serpihan pazzle kehidupan yg di bekali peran masing-masing, ambil peran mu, mainkan sebaik2 nya, jangan kau mainkan peran lain yg justru bukan milik mu, itu tidak adil, itu menyakitkan dan korbanya jiwamu, jiwamu yg terdalam.

Rasa takut pertama saat saya memutuskan merantau ketempat tujuan yg sesuai hati. Adalah rasa takut yg sempurna, susah di gambarkan dengan kata-kata, ditambah orang -orang terdekat yg mencintai kita akan mencoba menasehati dan memberikan gambaran dan kemungkinan terburuk yg akan terjadi, tak ada yg salah dengan semua itu, itu bentuk kasih sayang alami dari orang terdekat dan mencoba menjauhkan kita dari kesukaran yg tidak semestinya.
Saat itu saya sibuk bebalok alias bisnis kayu gelondongan, namun jiwa saya udah tidak mampu lagi berbohong dan menjadi sesuatu yg lain, saya bekerja tidak dengan gairah. Saya merasa asing justru di tempat dan lingkungan yg membesarkan saya, saya ingin mencoba hidup di tempat pariwisata yg memberikan saya peluang untuk bekerja dan berbahasa asing yg sangat saya sukai, itulah suara hati saya yg terdalam, yg kadang berbisik dan sangat menganggu.
Masalahnya, kemana saya harus pergi??? Saya bukan tamatan sekolah pariwisata, bahasa ingris saya jauh dari kata cukup, dan saya tidak punya cukup uang buat ongkos perjalanan dan menetap
Sampai dapat pekerjaan,alasan sempurna yg membuat rasa takutku sebesar Raksasa, yg siap menerkam dan merobek jiwa.
Syukur alhamdulillah saya menghadapi sang raksasa dengan gagah, saya mulai membeli buku percakapan bhs ingris yg sebenarnya tak berarti apa-apa, dan untuk menghadapi kemungkinan terburuk lainya, saya mulai membuat kebun di depan rumah , mempersiapkan tubuh dgn kemungkinan terburuk, kasarnya, saya siap nyangkul di rantau dalam mengejar impian, sambil belajar otodidak percakapan bahasa inggris, untuk ongkos, saya ambil uang jamsostek waktu saya bekerja di perkebunan dulu, yg berjumlah 700 ribu.hanya itu saja???? Ya demi Allah itu saja yg saya lakukan, ahirnya saya melangkah dan bertekat bulat menggapai impian, menjadi peran yg Allah titipkan, agar kepingan pazzle kehidupan ini sempurna.
Saya memulai langkah kecil saya, langkah yg menciptakan ribuan langkah lagi kedepan, jauh dan jauh, di luar batas angan dan terka'an,Allah membiarkan  melangkah bahkan berlari, melewati impian terliar  sekalipun, dan sekarang saya sudah bisa tersenyum, sungguh kau akan dapatkan lebih dari yg kau minta, asalkan kau bersungguh-sungguh, Allah tak mengabulkan setiap keinginan kita, tapi satu hal yg pasti, dia tau apa yg pantas kita dapatkan sesuai usaha dan peran kita dalam kehidupan, jadi, bekerja di berbagai negara,menetap di Tokyo, punya pekerjaan bagus dgn gaji lebih dari cukup, punya istri orang jepang dan dikaruniai seorang anak, itu hanya bonus extra yg tak terduga,pada awalnya, sekedar hanya ingin jadi diri dengan mengikuti kata hati, meski hanya jadi tukang kebun, tapi di resort pariwisata yg membolehkan saya berbahasa ingris, sesederhana itu, karna kegigihan dan doa yg terkabulkan, karna ketakutan tak menciutkan nyaliku lagi, karna kekecewaan dan kegagalan adalah karib ku. Allah berikan lebih, yup melebihi mimpi terliar ku.untuk tau cerita lengkapnya, doakan buku saya terbit tahun ini, kita kupas tuntas semuanya, amiin.
Tokyo may 13. 2017
Benny,ed

Monday, May 1, 2017

Pengemis Jepang ( japanese homeless)

Judul tulisan saya kali ini tentang pengemis atau homeless di Tokyo.
Sering kita liat dan dengar tentang kasus sosial tunawisma ini, apalagi di kota-kota besar di negara berkembang seperti Indonesia, penyakit sosial yg susah di perbaiki, seakan sudah menjadi lumrah dan malah dapat diterima oleh masyarakat.
Banyak hal yg menjadi penyebab nya, kemungkinan tidak adanya lahan pekerjaan, ditambah kondisi fisik dan mental, jadilah mengemis sebuah alternatif solusi masalah ini.
Di tunjang dengan cultur budaya juga agama, orang timur sangat perasa dan pemurah, agama juga menganjurkan kita untuk bersedekah bagi yg lemah dan membutuhkan.
Yang menjadi menarik adanya pemberitaan tentang pengemis kaya ahir-ahir ini. Saya pribadi belum melihat dgn mata kepala sendiri, namun saya yakin juga dengan berita yg menyatakan mereka ada yg berpendapatan di atas rata-rata orang normal, mempunyai rumah bagus dan menyekolahkan anak ke perguruan tinggi dengan berpura-pura susah dan memanfaatkan rasa iba orang lain yg justru lebih susah dari nya.membuat kita ada yg merasa ragu dan bingung, mana pengemis sesungguhnya tempat kita bersedekah dan kita bantu.
Hal tentang pengemis di Indonesia ini tidak saya bahas lagi, saya akan bahas pengemis atau homeless di negara maju. Meski kita tau negara maju seperti amerika, eropa juga jepang contoh nya, walau banyak lowongan pekerjaan tersedia, tunawisma tetap ada, cuma penyebabnya aja yg berbeda. Saya khusus membahas yg di Tokyo tempat saya tinggal.
Suatu hari sepulang dari kerja, saya menjumpai pengemis tua perempuan yg sudah sangat parah kondisinya, tertatih menelusuri jalanan Tokyo yg pada musim panas bisa mencapai 40 derjad celsius , keadaan yg amat menyiksa homeless tua renta ini, spontan saya merogoh saku dan memberikan sejumlah uang cukup buat beli bento ( makanan bungkus ala jepang) dan sebotol minuman yg mudah didapat di sudut-sudut kota ini.
Secara serentak teman-teman saya yg asli orang Jepang melarang saya, saya tak menghiraukan dan coba menjelaskan, itu hanya segelintir uang yg tak begitu berarti buat kita, tapi bisa membuat wanita renta itu senang dgn perut kenyang buat sementara. Wanita tua tersebut terlihat sedikit grogi dan terkejut menerima pemberian saya, tersirat rasa malu dan harga diri yg sedikit terkoyak di matanya, namun yg terpenting, dia menerima pemberian saya , berucap terima kasih dan berlalu segera, beberapa saat kemudian teman- saya mulai menerangkan apa arti homeless buat mereka. Mengambil tempat duduk di sebuah taman, mereka mulai bercerita. Di Jepang semua orang ada asuransi, tunjangan sosial juga pensiun, asalkan di waktu muda mereka bekerja, jadi dalam kata lain, semua orang ada tunjangan pemerintah termasuk pensiun, ( di negara kita cuma pegawai negri aja yg ada pensiun ) jadi homeless ini adalah kumpulan orang- malas dan sebagian pecandu alkohol kelas berat, setiap saat mereka di kumpulkan ke penampungan khusus, di anjurkan untuk bekerja, namun toh ahirnya kembali kejalanan, menggunakan tunjangan sosial mereka untuk membeli alkohol dan mabuk ria di taman-taman kota, kemudian tidur di trotoar atau di tama-taman tersebut, meski tidak seratus persen saya setuju, karna saya pernah melihat beberapa homeless terganggu jiwanya, jadi bukan hanya malas dan mau hidup seenaknya.
Namun satu hal yg membuat saya salut dan sadar, tuna wisma disini tidak pernah meminta-minta, meski keadaan mereka sekarat. Itu terlihat dgn ekspresi wajah seorang tunawisma yg berjalan tertatih-tatih, saya beri uang dan tanpa berkata-kata lari secepatnya, karna saya takut melukai harga dirinya dan satu sisi panggilan moral saya terpenuhi untuk menolong seseorang dlm posisi sekarat.
Orang jepang sangat membenci homeless ini, dan tak pernah memanjakan mereka dgn sedekah atau apapun yg membuat mereka ketagihan atau menikmati posisi ketidakberdayaannya.
Sampai tadi pagi saya jalan-jalan di Akihabara, salah satu surga elektronik dan tempat tujuan para turis kaya berbelanja. Saya melihat seekor Anjing tergeletak bersama tuannya , seorang gadis muda. Di sekelilingnya terdapat banyak photo-photo dan biodata sang Anjing, tampaknya ada penyakit serius menimpanya, disamping memang sudah tua.
Hebatnya banyak orang bersimpati, singgah untuk menanyakan kondisi anjing tersebut ke tuannya, atau sekadar membaca biodata anjing tersebut, tanpa ragu mereka merogoh kocek dan memberikan sumbangan, sehingga kotak sumbangan penuh dgn uang kertas pecahan terkecil seribu yen, ironisnya hanya berjarak beberapa meter, tiga tuna wisma tergeletak tiduran, dan satu orang nenek tua yg kelihatan kedinginan dgn rambut yg telah memutih, tak ada belas kasih buat mereka, meski hanya sekadar lirikan saja, inilah Jepang dgn segala kemewahan dan kecanggihannya. Anjing lebih dihargai dari manusia, apapun alasannya, itulah budaya dan karakter mereka, jangan pernah menggantungkan nasib atau belas kasian pada orang lain, kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri, kata jack ma( org sukses dan terkaya china) . Hanya orang tua kitalah yg wajib membantu kita sampai umur dewasa atau waktu kita bisa kerja sendiri) selebihnya tak ada tanggung jawab atau keharusan untuk mem bantu kita dalam hidup ini, mind your own business. Welcome to Japan, dimana kita ditempa kuat dan mandiri dgn sendirinya, yup, mereka menjelma jadi negara maju dgn segala kekurangannya. Silakan baca beberapa tulisan di blog ini, dengan harapan bermanfaat untuk semua , amiin.
Tokyo May 1.2017
By
Benny.ed