Judul tulisan saya kali ini tentang pengemis atau homeless di Tokyo.
Sering kita liat dan dengar tentang kasus sosial tunawisma ini, apalagi di kota-kota besar di negara berkembang seperti Indonesia, penyakit sosial yg susah di perbaiki, seakan sudah menjadi lumrah dan malah dapat diterima oleh masyarakat.
Banyak hal yg menjadi penyebab nya, kemungkinan tidak adanya lahan pekerjaan, ditambah kondisi fisik dan mental, jadilah mengemis sebuah alternatif solusi masalah ini.
Di tunjang dengan cultur budaya juga agama, orang timur sangat perasa dan pemurah, agama juga menganjurkan kita untuk bersedekah bagi yg lemah dan membutuhkan.
Yang menjadi menarik adanya pemberitaan tentang pengemis kaya ahir-ahir ini. Saya pribadi belum melihat dgn mata kepala sendiri, namun saya yakin juga dengan berita yg menyatakan mereka ada yg berpendapatan di atas rata-rata orang normal, mempunyai rumah bagus dan menyekolahkan anak ke perguruan tinggi dengan berpura-pura susah dan memanfaatkan rasa iba orang lain yg justru lebih susah dari nya.membuat kita ada yg merasa ragu dan bingung, mana pengemis sesungguhnya tempat kita bersedekah dan kita bantu.
Hal tentang pengemis di Indonesia ini tidak saya bahas lagi, saya akan bahas pengemis atau homeless di negara maju. Meski kita tau negara maju seperti amerika, eropa juga jepang contoh nya, walau banyak lowongan pekerjaan tersedia, tunawisma tetap ada, cuma penyebabnya aja yg berbeda. Saya khusus membahas yg di Tokyo tempat saya tinggal.
Suatu hari sepulang dari kerja, saya menjumpai pengemis tua perempuan yg sudah sangat parah kondisinya, tertatih menelusuri jalanan Tokyo yg pada musim panas bisa mencapai 40 derjad celsius , keadaan yg amat menyiksa homeless tua renta ini, spontan saya merogoh saku dan memberikan sejumlah uang cukup buat beli bento ( makanan bungkus ala jepang) dan sebotol minuman yg mudah didapat di sudut-sudut kota ini.
Secara serentak teman-teman saya yg asli orang Jepang melarang saya, saya tak menghiraukan dan coba menjelaskan, itu hanya segelintir uang yg tak begitu berarti buat kita, tapi bisa membuat wanita renta itu senang dgn perut kenyang buat sementara. Wanita tua tersebut terlihat sedikit grogi dan terkejut menerima pemberian saya, tersirat rasa malu dan harga diri yg sedikit terkoyak di matanya, namun yg terpenting, dia menerima pemberian saya , berucap terima kasih dan berlalu segera, beberapa saat kemudian teman- saya mulai menerangkan apa arti homeless buat mereka. Mengambil tempat duduk di sebuah taman, mereka mulai bercerita. Di Jepang semua orang ada asuransi, tunjangan sosial juga pensiun, asalkan di waktu muda mereka bekerja, jadi dalam kata lain, semua orang ada tunjangan pemerintah termasuk pensiun, ( di negara kita cuma pegawai negri aja yg ada pensiun ) jadi homeless ini adalah kumpulan orang- malas dan sebagian pecandu alkohol kelas berat, setiap saat mereka di kumpulkan ke penampungan khusus, di anjurkan untuk bekerja, namun toh ahirnya kembali kejalanan, menggunakan tunjangan sosial mereka untuk membeli alkohol dan mabuk ria di taman-taman kota, kemudian tidur di trotoar atau di tama-taman tersebut, meski tidak seratus persen saya setuju, karna saya pernah melihat beberapa homeless terganggu jiwanya, jadi bukan hanya malas dan mau hidup seenaknya.
Namun satu hal yg membuat saya salut dan sadar, tuna wisma disini tidak pernah meminta-minta, meski keadaan mereka sekarat. Itu terlihat dgn ekspresi wajah seorang tunawisma yg berjalan tertatih-tatih, saya beri uang dan tanpa berkata-kata lari secepatnya, karna saya takut melukai harga dirinya dan satu sisi panggilan moral saya terpenuhi untuk menolong seseorang dlm posisi sekarat.
Orang jepang sangat membenci homeless ini, dan tak pernah memanjakan mereka dgn sedekah atau apapun yg membuat mereka ketagihan atau menikmati posisi ketidakberdayaannya.
Sampai tadi pagi saya jalan-jalan di Akihabara, salah satu surga elektronik dan tempat tujuan para turis kaya berbelanja. Saya melihat seekor Anjing tergeletak bersama tuannya , seorang gadis muda. Di sekelilingnya terdapat banyak photo-photo dan biodata sang Anjing, tampaknya ada penyakit serius menimpanya, disamping memang sudah tua.
Hebatnya banyak orang bersimpati, singgah untuk menanyakan kondisi anjing tersebut ke tuannya, atau sekadar membaca biodata anjing tersebut, tanpa ragu mereka merogoh kocek dan memberikan sumbangan, sehingga kotak sumbangan penuh dgn uang kertas pecahan terkecil seribu yen, ironisnya hanya berjarak beberapa meter, tiga tuna wisma tergeletak tiduran, dan satu orang nenek tua yg kelihatan kedinginan dgn rambut yg telah memutih, tak ada belas kasih buat mereka, meski hanya sekadar lirikan saja, inilah Jepang dgn segala kemewahan dan kecanggihannya. Anjing lebih dihargai dari manusia, apapun alasannya, itulah budaya dan karakter mereka, jangan pernah menggantungkan nasib atau belas kasian pada orang lain, kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri, kata jack ma( org sukses dan terkaya china) . Hanya orang tua kitalah yg wajib membantu kita sampai umur dewasa atau waktu kita bisa kerja sendiri) selebihnya tak ada tanggung jawab atau keharusan untuk mem bantu kita dalam hidup ini, mind your own business. Welcome to Japan, dimana kita ditempa kuat dan mandiri dgn sendirinya, yup, mereka menjelma jadi negara maju dgn segala kekurangannya. Silakan baca beberapa tulisan di blog ini, dengan harapan bermanfaat untuk semua , amiin.
Tokyo May 1.2017
By
Benny.ed
Sering kita liat dan dengar tentang kasus sosial tunawisma ini, apalagi di kota-kota besar di negara berkembang seperti Indonesia, penyakit sosial yg susah di perbaiki, seakan sudah menjadi lumrah dan malah dapat diterima oleh masyarakat.
Banyak hal yg menjadi penyebab nya, kemungkinan tidak adanya lahan pekerjaan, ditambah kondisi fisik dan mental, jadilah mengemis sebuah alternatif solusi masalah ini.
Di tunjang dengan cultur budaya juga agama, orang timur sangat perasa dan pemurah, agama juga menganjurkan kita untuk bersedekah bagi yg lemah dan membutuhkan.
Yang menjadi menarik adanya pemberitaan tentang pengemis kaya ahir-ahir ini. Saya pribadi belum melihat dgn mata kepala sendiri, namun saya yakin juga dengan berita yg menyatakan mereka ada yg berpendapatan di atas rata-rata orang normal, mempunyai rumah bagus dan menyekolahkan anak ke perguruan tinggi dengan berpura-pura susah dan memanfaatkan rasa iba orang lain yg justru lebih susah dari nya.membuat kita ada yg merasa ragu dan bingung, mana pengemis sesungguhnya tempat kita bersedekah dan kita bantu.
Hal tentang pengemis di Indonesia ini tidak saya bahas lagi, saya akan bahas pengemis atau homeless di negara maju. Meski kita tau negara maju seperti amerika, eropa juga jepang contoh nya, walau banyak lowongan pekerjaan tersedia, tunawisma tetap ada, cuma penyebabnya aja yg berbeda. Saya khusus membahas yg di Tokyo tempat saya tinggal.
Suatu hari sepulang dari kerja, saya menjumpai pengemis tua perempuan yg sudah sangat parah kondisinya, tertatih menelusuri jalanan Tokyo yg pada musim panas bisa mencapai 40 derjad celsius , keadaan yg amat menyiksa homeless tua renta ini, spontan saya merogoh saku dan memberikan sejumlah uang cukup buat beli bento ( makanan bungkus ala jepang) dan sebotol minuman yg mudah didapat di sudut-sudut kota ini.
Secara serentak teman-teman saya yg asli orang Jepang melarang saya, saya tak menghiraukan dan coba menjelaskan, itu hanya segelintir uang yg tak begitu berarti buat kita, tapi bisa membuat wanita renta itu senang dgn perut kenyang buat sementara. Wanita tua tersebut terlihat sedikit grogi dan terkejut menerima pemberian saya, tersirat rasa malu dan harga diri yg sedikit terkoyak di matanya, namun yg terpenting, dia menerima pemberian saya , berucap terima kasih dan berlalu segera, beberapa saat kemudian teman- saya mulai menerangkan apa arti homeless buat mereka. Mengambil tempat duduk di sebuah taman, mereka mulai bercerita. Di Jepang semua orang ada asuransi, tunjangan sosial juga pensiun, asalkan di waktu muda mereka bekerja, jadi dalam kata lain, semua orang ada tunjangan pemerintah termasuk pensiun, ( di negara kita cuma pegawai negri aja yg ada pensiun ) jadi homeless ini adalah kumpulan orang- malas dan sebagian pecandu alkohol kelas berat, setiap saat mereka di kumpulkan ke penampungan khusus, di anjurkan untuk bekerja, namun toh ahirnya kembali kejalanan, menggunakan tunjangan sosial mereka untuk membeli alkohol dan mabuk ria di taman-taman kota, kemudian tidur di trotoar atau di tama-taman tersebut, meski tidak seratus persen saya setuju, karna saya pernah melihat beberapa homeless terganggu jiwanya, jadi bukan hanya malas dan mau hidup seenaknya.
Namun satu hal yg membuat saya salut dan sadar, tuna wisma disini tidak pernah meminta-minta, meski keadaan mereka sekarat. Itu terlihat dgn ekspresi wajah seorang tunawisma yg berjalan tertatih-tatih, saya beri uang dan tanpa berkata-kata lari secepatnya, karna saya takut melukai harga dirinya dan satu sisi panggilan moral saya terpenuhi untuk menolong seseorang dlm posisi sekarat.
Orang jepang sangat membenci homeless ini, dan tak pernah memanjakan mereka dgn sedekah atau apapun yg membuat mereka ketagihan atau menikmati posisi ketidakberdayaannya.
Sampai tadi pagi saya jalan-jalan di Akihabara, salah satu surga elektronik dan tempat tujuan para turis kaya berbelanja. Saya melihat seekor Anjing tergeletak bersama tuannya , seorang gadis muda. Di sekelilingnya terdapat banyak photo-photo dan biodata sang Anjing, tampaknya ada penyakit serius menimpanya, disamping memang sudah tua.
Hebatnya banyak orang bersimpati, singgah untuk menanyakan kondisi anjing tersebut ke tuannya, atau sekadar membaca biodata anjing tersebut, tanpa ragu mereka merogoh kocek dan memberikan sumbangan, sehingga kotak sumbangan penuh dgn uang kertas pecahan terkecil seribu yen, ironisnya hanya berjarak beberapa meter, tiga tuna wisma tergeletak tiduran, dan satu orang nenek tua yg kelihatan kedinginan dgn rambut yg telah memutih, tak ada belas kasih buat mereka, meski hanya sekadar lirikan saja, inilah Jepang dgn segala kemewahan dan kecanggihannya. Anjing lebih dihargai dari manusia, apapun alasannya, itulah budaya dan karakter mereka, jangan pernah menggantungkan nasib atau belas kasian pada orang lain, kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri, kata jack ma( org sukses dan terkaya china) . Hanya orang tua kitalah yg wajib membantu kita sampai umur dewasa atau waktu kita bisa kerja sendiri) selebihnya tak ada tanggung jawab atau keharusan untuk mem bantu kita dalam hidup ini, mind your own business. Welcome to Japan, dimana kita ditempa kuat dan mandiri dgn sendirinya, yup, mereka menjelma jadi negara maju dgn segala kekurangannya. Silakan baca beberapa tulisan di blog ini, dengan harapan bermanfaat untuk semua , amiin.
Tokyo May 1.2017
By
Benny.ed
No comments:
Post a Comment