Friday, June 23, 2017

Saat mudik lebaran sudah tidak Penting lagi

Kala Mudik Lebaran Saya Anggap Tidak Penting June 22, 2017 Mudik...... kalimat yg sangat berarti dan ditunggu-tunggu kita semua, tradisi ini udah dari dulu dan mengakar di hampir setiap individu, bukan saja di Indonesia. Tapi negara maju seperti Jepang juga punya tradisi mudik disaat Obong, atau tahun baru untuk bertemu sanak keluarga. Bagi kita orang Timur khususnya Indonesia, Mudik adalah topik yg ngak ada habisnya untuk di bahas,dengan segala usaha dan pengorbanan, kita akan selalu mencoba menyempatkan diri untuk pulang kampung bersilaturrahmi dengan sanak keluarga, berlaku untuk semua orang dan agama serta hari besarnya. Tulisan saya kali ini membahas saat khusus disaat pulkam atau mudik ini tidak menjadi prioritas utama. Tentusaja dengan berbagai alasan yg menurut saya pribadi yg di sesuaikan dengan keadaan, situasi dan kondisi nya. Pada Awal tahun 2000 an.saya memutuskan merantau, meninggalkan kampung tercinta beserta segala isi yg tentusaja telah menjadi bagian dari kehidupan,Meski berat kaki untuk melangkah, namun layar telah terbentang, dan pantang untuk kembali, mengerjar Impian yg masih takpasti, dengan segala rintangan yg siap melumatkan kehidupan dan jiwa. Mengutamakan kata hati, mengikuti keinginan diri, yg kadang berbisik lirih, tapi sungguh mengganggu keseharian, dan benar saja, pengorbanan adalah tumbal yg tak dapat terhindarkan,pengorbanan dalam berbagai bentuk dan rasa.salah satunya adalah tidak bisa pulang atau mudik dihari-hari penting, seperti hari raya, dan hari-hari penting lainnya. Percaya atau tidak, total keseluruhan saya tidak pernah mudik atau pulkam saat Hari Raya idulfitri adalah 16 thn, ya, no kidding,( enam belas tahun)......,, waktu yg bukan sedikit atau singkat, waktu yg cukup untuk seorang bayi yg baru lahir tumbuh jadi Remaja, waktu yg menyematkan banyak Tanda,menggoreskan luka yg tak terhitung, menancapkan perih sangat dalam, menyiramkan Racun-racun berbisa, dan mematikan rasa cengeng sebagai anak manusia. Jadilah saya yg sekarang, yg masih bisa tersenyum dengan hanya melihat tv atau sosmed tentang kemeriahan berita atau perayaan lebaran, saya mampu menutup sekejap mata, dan membawa diri ke dalam khayal untuk berada dan menikmati suasana lebaran yg tentu saja terbaik yg ada di kampung bersama kerabat dan keluarga. Beberapa hal yg membuat Mudik jadi tidak penting buat saya adalahdi saat kondisi dan keadaan seperti ini: 1.Tidak ada uang Awal masa waktu di rantau, seperti biasa , uang adalah masalah klise yg jadi kendala, jangankan buat pulang lebaran, buat makan aja susah, di kondisi ini, saya tidak memaksakan diri untuk pulang , apalagi mencari utangan untuk sekadar pulkam dan lebaran di kampung, ini berlaku sekitar 3 thn masa- masa awal di Rantau, 2.Ada hal lain yg lebih utama. Dan jadi prioritas. Berhubung tempat dan jarak yg cukup jauh, di tambah transportasi masih kuno, cuma pakai kapal laut, dan biaya juga waktu yg banyak dan lama, juga kondisi ekonomi yg belum stabil, punya pekerjaan yg belum stabil, termasuk pendapatan yg masih pas-pasan. Di tambah tanggung Jawab moral terhadap keluarga, saat itu saya masih punya adik di bangku kuliah dan seorang ibu yg menjanda, yg mulai menua dan tak bekerja juga tanpa uang tunjangan lainnya. Hanya Allah yg tahu betapa rindu dan inginnya pulang kampung buat lebaran, tapi sa'at itu saya yakin .keluarga lebih butuh uang, ketimbang hanya kehadiran saya sesa'at, tentu saja keluarga akan memilih saya pulang dari pada uang, tapi saya tau dgn pasti, dan memilih, serta memutuskan mengirimkan uang lebaran yg totalnya sama dgn ongkos pulang dan tetek bengeknya. Meski harus menekan batin dan rasa akan kerinduan pulang saat lebaran. memilih pulang di saat biasa, di waktu semuanya stabil,adalah pilihan yg masuk akal sa'at itu. 3.pekerjaan. Bekerja di bidang service industri, dan dilingkungan yg bukan sama back ground nya apalagi di luar negeri, memaksa kita untuk melupakan hari-hari penting ini, di saat orang santai dan liburan, kita yg bekerja di service industri akan bekerja lebih sibuk, karna saat musim libur itulah perusahaan yg membayar kita mendapatkan uang lebih, alias musim panen, dan anda tak punya cukup alasan libur hanya karna mau mudik lebaran, apalagi lokasi kerja di luar negeri dan diikat kontrak, lebaran akan berlalu laksana embun di pagi hari. Itulah segelintir Alasan atau kejadian dalam hidup saya, yg memaksa untuk tidak mudik bersilaturrahmi dengan keluarga, disamping banyak pertimbangan lain, tergantung situasi dan kondisi setiap individu. Terutama alasan ekonomi, 10 thn masa saya awal merantau, itu murni masalah keuangan, akan sangat naif pulang mudik dgn uang yg saya harus tabung selama satu tahun dan di habiskan buat pulkam kemudian kerja dan nabung lagi hanya buat mudik. Memberikan sebagian uang tabungan buat keluarga, bersabar diri untuk tidak pulang dan menangis diam-diam di kamar kos itu pilihan sehat yg tersisa. Alhamdulillah setelah 16 thn masa-masa sulit di rantau dan berjuang sendiri dengan ridho Allah, kehidupan makin mudah, saya bisa pulang waktu lebaran tanpa harus kawatir dengan keuangan, nikmatnya sungguh luarbiasa, tak terukir dengan kata-kata. Dan pada akhirnya. SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA, selamat belebaran to ya all, maaf lahir batin, dan yang ngak bisa pulang, jangan sedih, anda tidak sendiri, akan banyak hikmah yg bisa di petik dengar kesendirian dalam kerinduan. Ied mubarrak, Tokyo 23 June-2017 By Benny.ed

No comments:

Post a Comment